Sorot

Anggota DPRD Karo Sidak Proyek Ambruk di Penatapen Pintu Masuk Karo

PPK : Tidak Benar Proyek dikerjakan anggota DPRD KARO
print

Anggota DPRD Karo Jhon Karya Sukatendel, Amri Tarigan, Edy Wijaya dan Moni Pandia sidak proyek yang ambruk dan tumbang di Penatapen, Doulu, Karo Rabu (1/2). KABAR SUMUT/robinson purba

TANAH KARO – KABAR SUMUT

Beberapa orang anggota DPRD Karo yang terdiri dari Edy Wijaya (Ketua F Gerinda), Amri Tarigan (F Golkar), John Karya Sukatendel (F PKPI) dan Moni Pandia (F Demokrat) melakukan sidak ke proyek tulisan MEJUAH JUAH yang tumbang dan ambruk nyaris menimpa kios kios warga di Penatapen Rabu (1/2).

Kepada Kabar Sumut dilokasi proyek, keempat anggota dewan ini mengatakan, sidak ini dilakukan sebab telah banyak keluhan masyarakat dan aduan melalui secara langsung dan juga melalui media sosial kepada pihak mereka bahwa proyek ambruk tersebut meresahkan warga Karo,  sebab diduga proyek tersebut tidak memiliki kelayakan untuk ditempatkan dilokasi yang masih berada di kawasan hutan register dan jalur lintas angin.

Mereka menyoroti kinerja Pemkab Karo yang tidak melaksanakan perencanaan yang matang dan pengawasan terhadap setiap paket proyek yang ditenderkan dan dikerjakan oleh pihak rekanan.

“Apa sih artinya dan tujuan itu tulisan, dari segi kelayakannya bagaimana, siapa konsultan dan bagaimana kelayakannnya,” ucap Amri Tarigan diamini yang lainnya.

Jhon Karya dan Edy Wijaya mempertanyakan progres pengerjaan proyek tersebut, apakah ditindaklanjuti atau diberhentikan.

“Kita kan tau kalau daerah ini merupakan jalur lintasan angin (pintu angin), oleh sebab itu perencanaan untuk suatu proyek di daerah ini harus betul betul matang, ” kata mereka.

Selain itu, mereka juga ingin meluruskan bahwa anggota DPRD tidak boleh mengerjakan proyek, mengingat informasi yang beredar di media sosial bahwa proyek tumbang dan ambruk itu adalah proyek salah seorang anggota DPRD Karo.

Selain itu,anggota DPRD juga meminta supaya setiap rupiah yang bersumber dari uang negara harus dapat dipertanggungjawabkan.

Di lokasi proyek tumbang dan ambruk itu anggota DPRD Karo menemukan sejumlah kenakalan dan keteledoran rekanan pada pengerjaan proyek seperti kedalaman pondasi tiang yang hanya 50 cm sementara tanahnya gambus dan beban yang dipikul hampir mencapai ratusan kilogram dan bahan-bahan yang digunakan.

Kemudian kabel seling yang berfungsi sebagai penahan tidak ada dibuat sehingga memudahkan tulisan itu ambruk. Pondasi beton yang hendak dijadikan tungku pedestrian  juga rapuh dan dapat digoyang goyang.

Sementara, PPK paket proyek yang dipanggil anggota DPRD setiba dilokasi proyek, Radius Tarigan mengatakan bahwa tidak benar proyek tersebut dikerjakan anggota DPRD Karo. Tetapi dikerjakan oleh CV. Askonas Konstruksi Utama atas nama Roy Hefri Simorangkir sebagai direktur perusahaan, pekerjaan pembuatan tugu mejuah juah dengan nilai kontrak Rp 679.573.000 sumber dana DAU pada APBD 2016 waktu pelaksanaan selama 50 hari kalender.

Diceritakannya, bahwa bangunan tersebut ambruk dan runtuh pada 3 Januari lalu, sementara waktu serah terimanya dijadwalkan pada 5 Februari. “Itupun sudah sudah diperpanjang kontraknya, ” ungkapnya.

Lanjutnya, sebelum ambruk dan tumbang ada 2 huruf lagi yang belum selesai terdiri dari huruf M dan E yang belum terpasang dan berdiri.

Dikatakannya lagi, setelah pihaknya berembuk dengan rekanan bahwa proyek tersebut tidak akan dilanjutkan tanpa menyebutkan apa alasan alasan untuk tidak melanjutkan itu.  “Proyek itu akan diputus kontrak atau diberhentikan,” katanya.

Disinggung mengenai pertanggung jawaban uang negara yang telah di cairkan, ia mengatakan setelah habis masa perpanjangan pekerjaan maka tim dari Badan Pemeriksa Keuangan akan melakukan audit terhadap pekerjaan ini.

  • ROBINSON PURBA
Ke Atas